Selasa, 27 Agustus 2024

Jatisariku

 

Jatisariku

Di desa Jatisari, sebuah tempat yang berada di belantara hijau Lampung Selatan, masa kecilku berputar di sekitar pelajaran yang sederhana namun berharga. Nama ku Ali, tapi teman-teman memanggilku Towil—nama panggilan yang diberikan karena kabarnya aku pernah sakit keras. Menurut adat Jawa, nama parafan seolah menjadi pengingat akan kekuatan dan doa yang menyertai kehidupan seorang anak.

Sekolahku berada di SDN 4 Jatimulyo, sebuah sekolah sederhana yang terletak sekitar setengah jam perjalanan dari rumah. Setiap pagi, aku berangkat dengan semangat, ditemani oleh kawan-kawan sebayaku. Jalan menuju sekolah selalu diwarnai oleh canda tawa kami, meski debu jalanan dan panas matahari menyertai setiap langkah kami.

Sekolahku terletak di tepi desa, di mana rumah-rumah berdiri bersisian, dan kebun-kebun kecil mengelilingi setiap halaman. Suasana desa Jatisari terasa sangat akrab—tanahnya yang subur, udara yang segar, dan pemandangan hijau yang luas. Hijaunya pepohonan dan suara riang burung seakan menjadi musik pengiring hari-hariku.

Setelah bel sekolah berbunyi, aku pulang dengan penuh kegembiraan. Begitu sampai di rumah, aku langsung melepas seragam sekolahku yang basah oleh keringat, menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman. Tak sabar untuk melanjutkan petualangan harian, aku menuju kandang kambing untuk merawat hewan-hewan peliharaan kami. Kambing-kambing itu sangat akrab denganku, seolah mereka adalah bagian dari keluarga.

Tugas utama setelah merawat kambing adalah mencari buah jambu monyet, buah yang selalu menjadi favoritku. Dengan cepat, aku berlari ke kebun, mencari jambu monyet yang matang dan manis. Rasanya seperti menemukan harta karun kecil setiap kali aku menemukan buah yang tepat.

Setelah itu, aku akan bergegas menuju kubangan besar di pinggir kampung—sebuah tempat yang kami sebut "kolam renang alami." Kubangan ini terbentuk dari aliran sungai kecil yang mengalir di desa kami, dan airnya jernih, menyegarkan di hari yang panas. Di sinilah aku dan teman-teman menghabiskan waktu, berenang dan bermain air hingga matahari terbenam.

Desa Jatisari adalah tempat di mana setiap hari terasa seperti petualangan baru. Suasana tenang dan penuh kehangatan dari orang-orang di sekitar membuat setiap momen berharga. Dalam kenangan-kenangan ini, aku menemukan kebahagiaan sederhana yang membentuk diriku hingga hari ini. Itulah Jatisariku—tempat di mana masa kecilku berkembang, penuh warna, dan penuh cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar